Sepi tidak sama dengan hening. Sepi bisa terjadi di kamar sendiri, ditemani ponsel yang menyala terus. Hening adalah hal lain — dan anehnya, untuk menemukannya, banyak dari kita justru harus pergi jauh, beramai-ramai, naik bus berjam-jam.
Saya sering memperhatikan ini dari kursi depan bus. Berangkat, rombongan ramai: bercanda, berbagi camilan, karaoke kalau ada yang berani. Lalu sampai di pertapaan atau gua Maria, dan sesuatu berubah. Tidak ada yang menyuruh. Suara-suara turun sendiri, langkah melambat sendiri. Orang-orang yang sehari-harinya dikejar cicilan, grup WhatsApp, dan berita, tiba-tiba punya izin untuk tidak ke mana-mana selama satu jam.
Mungkin itu jawabannya. Ziarah bukan soal tempatnya keramat atau pemandangannya bagus — meskipun keduanya sering benar. Ziarah adalah izin. Izin untuk berhenti, yang tidak pernah kita berikan pada diri sendiri di rumah.
Dan pulangnya selalu sama: badan capek, tapi ada yang lebih ringan. Bus malam yang sunyi, lampu-lampu kota lewat di jendela, beberapa peserta tertidur sambil masih menggenggam rosario. Menurut saya, itu salah satu pemandangan paling jujur tentang manusia: kita makhluk yang butuh berhenti, dan kadang harus menempuh ratusan kilometer dulu untuk berani melakukannya.
