Lewati ke konten utama
NadiaTour
← Cerita & infoCerita & refleksi

Kenapa kita masih butuh ziarah

Rombongan peserta dalam perjalanan ziarah

Sepi tidak sama dengan hening. Sepi bisa terjadi di kamar sendiri, ditemani ponsel yang menyala terus. Hening adalah hal lain — dan anehnya, untuk menemukannya, banyak dari kita justru harus pergi jauh, beramai-ramai, naik bus berjam-jam.

Saya sering memperhatikan ini dari kursi depan bus. Berangkat, rombongan ramai: bercanda, berbagi camilan, karaoke kalau ada yang berani. Lalu sampai di pertapaan atau gua Maria, dan sesuatu berubah. Tidak ada yang menyuruh. Suara-suara turun sendiri, langkah melambat sendiri. Orang-orang yang sehari-harinya dikejar cicilan, grup WhatsApp, dan berita, tiba-tiba punya izin untuk tidak ke mana-mana selama satu jam.

Mungkin itu jawabannya. Ziarah bukan soal tempatnya keramat atau pemandangannya bagus — meskipun keduanya sering benar. Ziarah adalah izin. Izin untuk berhenti, yang tidak pernah kita berikan pada diri sendiri di rumah.

Dan pulangnya selalu sama: badan capek, tapi ada yang lebih ringan. Bus malam yang sunyi, lampu-lampu kota lewat di jendela, beberapa peserta tertidur sambil masih menggenggam rosario. Menurut saya, itu salah satu pemandangan paling jujur tentang manusia: kita makhluk yang butuh berhenti, dan kadang harus menempuh ratusan kilometer dulu untuk berani melakukannya.

Tanya admin